Hati-Hati Palsu! Begini Cara Memilih Obat Herbal

obat herbal

Obat herbal merupakan pengobatan tradisional peninggalan nenek moyang dan memiliki sejarah panjang. World Health Organization menjelaskan jika teknik pengobatan ini dibentuk dari ilmu pengetahuan, praktik serta keterampilan yang didasari oleh sebuah keyakinan, teori dan adanya pengalaman dari budaya yang berbeda-beda.

Tidak banyak bukti ilmiah yang bisa dijelaskan tentang pengobatan tradisional, karena memang hanya sedikit yang memiliki penjelasan serta telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Selain untuk mengobati penyakit fisik juga dapat digunakan bagi orang-orang yang menderita sakit mental.

Bentuk dari obat-obatan herbal juga bervariasi, seperti :

  • Ramuan
  • Sirup
  • Teh
  • Salep
  • Tablet
  • Minyak esensial
  • dsb

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) membedakan obat tradisional berdasarkan tiga kategori serta yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, yakni :

  1. OHT (obat herbal terstandar)

Obat dengan bahan alami yang sudah terbukti khasiat dan keamanannya melalui uji praklinik.

  1. Fitofarmaka

Obat yang memiliki kandungan dari bahan alami berupa hewan, tumbuhan, mineral, serta galenik (sarian) dan telah teruji secara ilmiah serta aman juga berkhasiat.

  1. Jamu

Merupakan obat herbal atau alami yang telah diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi selanjutnya.

Memilih Obat Herbal yang Asli

Banyak orang yang mempercayai jika obat herbal memiliki manfaat dan aman untuk dikonsumsi. Padahal kenyataannya tidak semua obat-obatan tersebut diuji secara benar atau ilegal peredarannya dan tidak dapat dibuktikan secara klinis apakah benar berkhasiat serta aman.

Berikut dibawah ini adalah cara untuk memilih obat herbal yang aman dan asli, juga telah teruji secara klinis :

  1. Apabila membeli obat herbal di pasaran, pastikan untuk mengikuti petunjuk pada kemasan. Kemudian konsumsilah sesuai dosis.
  2. Pelajari terlebih dahulu obat herbal yang ingin dibeli dan dikonsumsi dengan baik. Anda bisa melakukan konsultasi kepada orang yang memiliki keahlian dibidang pengobatan tradisional.
  3. Perhatikan atau rasakan setiap efek yang Anda alami setiap kali mengkonsumsi obat tersebut. Jika, mengalami gejala yang membuat Anda khawatir segera hentikan penggunaannya.
  4. Mintalah bantuan orang yang ahli atau profesional tentang pengobatan tradisional.
  5. Apabila timbul alergi, sebaiknya dihentikan dan segera berkonsultasi ke dokter.

Anda juga wajib mengecek atau memperhatikan beberapa hal berikut ini pada kemasan obat herbal yang akan dibeli :

  1. Adakah larangan bagi orang-orang dengan penyakit tertentu.
  2. Bagaimana cara mengkonsumsi obat tersebut dengan benar.
  3. Berapa dosis yang harus dikonsumsi setiap kali minum.
  4. Bahan apa saja yang digunakan dalam obat herbal tersebut.
  5. Bila ada salah bahan yang membuat Anda alergi sebaiknya tidak dikonsumsi.
  6. Apakah ada bahan yang dilarang oleh dokter.

Pastikan juga ijin edar dari obat tersebut, jika tidak ada barcode resmi dari BPOM sebaiknya tidak dibeli. Karena bila dikonsumsi dan Anda mengalami efek samping, itu menjadi tanggung jawab diri sendiri. Untuk mengecek kelegalan suatu produk apakah tercatat di BPOM , bisa melalui laman website resmi yang mereka miliki.

Ciri-Ciri Obat Herbal yang Berbahaya

Obat herbal memang diklaim memiliki khasiat yang baik bagi tubuh, namun Anda juga berhati-hati dalam memilih dan mengkonsumsi obat tersebut. Pasalnya, jika Anda sembarangan minum obat, dikhawatirkan akan menimbulkan gejala yang memperburuk penyakit Anda.

Selain itu dikhawatirkan pula tentang obat-obatan herbal yang dicampur oleh zat kimia berbahaya. Karenanya bijaklah ketika Anda ingin membeli dan memilih, pastikan jika obat tersebut memang sudah memiliki izin edar serta teruji secara klinis.

Berikut ini ciri-ciri obat herbal yang berbahaya untuk kesehatan :

  1. Tidak ada atau tidak diketahui darimana dan siapa pemilik serta lokasi produksinya. Menurut WHO, setiap obat dengan kualitas bagus harus mencantumkan nama brand juga siapa produsennya.
  2. Bahan-bahan yang terkandung didalamnya tidak dijelaskan atau disebutkan, sehingga konsumen tidak mengetahui kandungannya. Selain itu juga tidak ada kejelasan tentang dosisnya.
  3. Tidak memiliki izin edar yang dikeluarkan secara resmi oleh BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) dan juga tidak tercantum logo SNI (Standar Nasional Indonesia) pada kemasannya.
  4. Obat herbal yang aman biasanya akan bereaksi dalam jangka waktu tiga atau seminggu, bahkan bisa beberapa minggu kemudian setelah dikonsumsi. Namun, apabila Anda merasa langsung sembuh atau lebih hanya setelah mengkonsumsinya. Maka obat tersebut patut dicurigai memiliki kandungan BKO (Bahan Kimia Obat).

Demikianlah informasi mengenai pemilihan obat herbal yang baik. Ingat untuk mengkonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter, apabila memang Anda mempunyai penyakit penyerta, seperti diabetes, darah tinggi atau jantung.

Hal tersebut harus dilakukan guna mencegah efek samping yang dapat memperburuk keadaan kesehatan Anda. Jadi, selalu pastikan untuk tidak sembarangan mengkonsumsi obat-obatan herbal dan perhatikan semua panduan dikemasannya.